Diposting Oleh: Eka Ayu Yuliantie – 09101089
Jurusan Manajemen STIE ASIA Malang
Mengolah Emosi dengan Cara Relaksasi
Emosi
merupakan perasaan-perasan yang dipengaruhi dari warna afektif. Warna afektif
yang dimaksud disini adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu
menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari. Disamping perasaan senang atau
tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, senang,
cinta, marah, takut, cemas dan benci. Pada saat emosi seringkali terjadi
perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:
a)
Peredaran darah bertambah cepat bila marah
b)
Reaksi elektris pada kulit meningkat bila terpesona
c)
Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut
d) Pernapasan bernapas
panjang kalau kecewa
e)
Pupil mata membesar bila marah
f)
Bulu roma berdiri kalau takut, dsb
Mengelola
emosi sangat penting untuk kesehatan mental kita. American Academy of Family
Physician berbagi saran bagaimana melakukannya :
1.
Ekspresikan perasaan dengan cara yang pantas.
2.
Jangan
simpan emosi, utarakan pada teman dekat atau kerabat terpercaya, atau minta
bantuan profesional seperti psikologi..
bantuan profesional seperti psikologi..
3.
Jangan
biarkan emosi meledak, perilaku demikian seringkali bakal disesali sesudahnya.
4.
Berusahalah memandang sisi positif dari semua
situasi.
5.
Karena
fisik dan mental saling berkaitan, jagala tubuh dengan pola makan yang sehat,
hindari narkoba dan alkohol serta rutin berolahraga.
hindari narkoba dan alkohol serta rutin berolahraga.
6.
Lakukan gaya hidup sehat dan seimbang antara
kerja,bermain dan relaksasi.
(Diposkan oleh Widyonarko di 16:16)
1. Cara Mengendalikan
Marah (Emosi Menjadi Sebuah Relaksasi yang Menyehatkan)
“Marah” sebuah expressi dari ketidak setujuan
atau ketidak sesuaian, antara keinginan dan kenyataan yang terjadi. Dalam hal
ini, marah adalah perasaan yang spontanitas karena stimulus yang mendorong
perasaan tidak nyaman itu muncul.
Menurut Harriet Lerner, marah adalah suatu
tanggapan dari perlakuan tidak adil. Adapun ketildakadilah tersebut adalah
sebuah pesan yang menyatakan :
- Kita itu sedang dilukai,
- Hak kita sedang dilanggar
- Kebutuhan atau keinginan kita sedang tidak dipenuhi
- Ada sesuatu yang tidak benar.
Berikutnya, ada beberapa psikologi di bawah
ini yang menyatakan manfaat marah. Ini adalah sebuah upaya pengaturan marah
agar bisa dikendalikan sehingga tidak melampui batas wajar dalam
menexspresikannya. Sehingga bisa membuat marah tersebut menjadi hal yang
menguntungkan.
Pertama, menurut Charles Spielberger,
Ph.D., seorang ahli psikologi yang mengambil spesialisasi studi tentang marah.
Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu
bentuk ekspresi emosi manusia. Seperti bentuk emosi lainnya, marah juga diikuti
dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan
tekanan darah meningkat, begitu juga dengan level hormon, adrenalin dan
noradrenalin.
Kedua, menurut Mark Gorkin
seorang konsultan pencegahan stres dan kekerasan, membagi marah dalam empat
kategori; marah yang disengaja, marah spontan (marah yg dilakukan secara
tiba-tiba), marah konstruktif (marah yang disertai ancaman terhadap orang lain)
dan marah destruktif (marah yang ditumpahkan tanpa rasa bersalah).
Ketiga, marah merupakan satu bentuk komunikasi.
Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika
kita marah. Bentuk penyampaian marah bisa berbeda-beda bergantung pada
lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering
diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan
perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus terang
mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.
Keempat, marah adalah
manusiawi. Marah memang bisa dikendalikan menjadi sebuah relaksasi yang
menyehatkan. Marah yang bisa berdampak buruk adalah marah yang tidak dikelola.
Hal ini sudah terbukti pada sebuah penelitian yang menyatakan marah akan lebih
baik daripada memendam perasaan jengkel. baik secara fisik maupun secara
psikologis. Karena jika di pendam, marah akan mengakibatkan banyaknya saraf
yang kaku (dalam jangka panjang biasanya bisa menimbulkan stroke).
2.
Mengelola Marah
menjadi menyenangkan
Berikut ini adalah tips agar marah dapat
menjadi expresi perasaan yang tidak merugikan.
1.
Lontarkan kemarahan atau kejengkelan Anda sewajarnya saja.
Sampaikan, penyebab utama kejengkelan itu. Bukan marah yang sekadar menuruti emosi
yang meledak-ledak, kemudian melampiaskannya melalui kata-kata, ekspresi dan
perlakuan yang kasar karena dapat merugikan orang lain. Untuk itu, dalam
keadaan marah kita harus mengedepankan rasio. Sehingga kemarahan itu jadi lebih
terkendali
2.
Mengidentifikasi kesalahan sikap dan pendirian yang memengaruhi
seseorang menjadi marah secara berlebihan. Bila telah diketahui dan diperbaiki
kesalahan ini, umumnya Anda bakal lebih mudah mengendalikan marah.
3.
Mengidentifikasi faktor-faktor dari masa kecil yang menghambat
kemampuan untuk mengekspresikan amarah. Faktor-faktor ini termasuk ketakutan,
penolakan dan ketidaktahuan.
4.
Mempelajari cara tepat untuk mengekspresikan kemarahan sehingga
tetap dapat menguasai situasi yang menimbulkan kemarahan itu, bahkan secara
lebih efektif.
5.
Menutup luka-luka yang mungkin tertinggal oleh pengaruh
emosional dari kemarahan yang menghancurkan.
3.
Olah Rasa dan Olah Napas
untuk Menjaga Emosi Tetap Berada di Titik Imbangnya
Seseorang yang mau terus belajar mengenali dirinya sendiri
akan berusaha mencari cara untuk menjaga titik imbangnya. Contoh: seorang atlet
yang aktivitasnya berkompetisi, pilihannya ada dua, menang atau kalah. Apa yang
dilakukan seorang atlet agar tidak larut dalam eforia kegembiraan saat
mengalami kemenangan, dan tidak meledak dalam kesedihan saat mengalami
kekalahan.
Latihan mengatur
napas atau bisa disebut olah napas dan latihan mengatur rasa atau bisa disebut
olah rasa, akan membantu seorang atlet menerima kemenangan dan kekalahan secara
wajar. Kewajaran itulah yang akan menjaga titik imbangnya, sehingga tidak
terlalu gembira atau terlalu bersedih. Ia tidak menepuk dada dan mendongakkan
kepala saat menang, dan tidak berjalan dengan kepala menunduk saat kalah. Ia
tetap berjalan tegak lurus dan tersenyum saat menang maupun kalah. meditasi
atau yoga untuk membantu diri sendiri dalam mengolah rasa dan napas. Aktivitas
apapun, bukan hanya meditasi dan yoga, yang bisa membawa seseorang dalam
keheningan, semuanya bisa memiliki manfaat untuk mengolah napas dan rasa.
Setiap orang
tentu memiliki cara untuk menangani dirinya sendiri. Setiap orang tentu
mengetahui titik-titik lemahnya sendiri, dan mempunyai cara untuk menangani
kelemahannya sendiri tersebut.
Akan ada masa
sulit dan masa mudah, akan ada masa menyedihkan dan masa menyenangkan, seperti
musim hujan dan kemarau yang datang bergantian. Seperti ada masa tanam, namun
ternyata gagal panen disebabkan oleh hal-hal, olah rasa dan olah napas bisa
membantu seorang petani terhindar dari emosi negatif, seperti kesal, marah,
kecewa, sedih. Perasaan tenang karena sudah terbiasa melakukan olah rasa dan
olah napas, membuat petani lebih memilih untuk meneliti penyebab gagal panen
yang dialaminya itu, untuk kemudian mencari jalan keluarnya. Juga dalam
hubungan antarmanusia, olah rasa dan olah napas bisa membantu seseorang tetap
tenang saat menghadapi orang yang ’sulit’, misalnya mengatakan urgent saat meminjam sejumlah uang dan
berjanji akan mengembalikannya pada tanggal sekian, ternyata janji tinggal
janji. Olah rasa dan olah napas bisa membuat emosi tetap berada di titik
keseimbangan ketenangan saat menghadapi situasi-situasi sulit dan orang-orang
sulit, juga tetap tenang saat menghadapi situasi-situasi yang mudah dan
orang-orang yang mudah.
4.
Memasak Sebagai Relaksasi
Kita
semua kenal dan menerima dapur sebagai ‘jantung’ dalam setiap rumah tangga.
Disini hampir semua proses dan interaksi antar keluarga terjadi, mulai dari
bangun pagi sampai waktu tidur malam. Memasak memang sering dihubungkan dengan
karakter perempuan atau seorang ibu, sebetulnya juga berlaku bagi semua manusia
lho, karena manusia beradab tidak dapat bertahan (hidup) tanpa memasak.
Masak itu membutuhkan konsentrasi yang melibatkan fisik, pikiran
juga perasaan. Sewaktu memasak panca indera kita menjadi aktif; mulai dari
tangan yang meracik bumbu, mencicip hidangan lezat sampai menghirup aroma
masakan yang menggelitik perut. Beberapa contoh aroma seperti kayu manis,
cengkeh atau vanila, mampu membangun suasana menenangkan dan rileks.
Dan jika saja kita sedang memiliki beban hidup dan amarah yang
meluap, cobalah resep roti yang membutuhkan tenaga sewaktu mencampur dan
membanting adonan sampai kalis. Tanpa perlu ‘salah alamat’ sewaktu emosi
meluap, dan pada akhirnya: wangi roti matang yang baru saja keluar oven mampu
melumerkan hati dan mendinginkan kepala
Lalu, memasak juga melatih kita
untuk berpikir kreatif, lebih tanggap dan fokus untuk mencari solusi. Misalkan satu resep membutuhkan gula cair dan saat itu hanya ada
gula pasir. Kita harus mencari solusi untuk menjawab ‘tantangan’ agar hidangan
tetap selesai dan jadi yang terbaik. Rasa penasaran untuk mencapai hasil
terbaik akan memberi kepuasan tersendiri diakhir proses.
Lebih dari itu, memasak juga menambah nilai ketrampilan untuk
menghasilkan hidangan lezat. Otomatis orang lain akan memberi penilaian lebih
dan kita pun akan tampil lebih percaya diri. Bersiaplah menerima pujian dan
sanjungan dari hasil pekerjaan kita. Ketika banyak orang menganggap masak
adalah satu kesulitan, kita akan melihat dari sisi yang berbeda yang akhirnya
membuat hidup lebih ringan.
Masih kurang yakin? Memasak akan makin mempererat hubungan
sosial ketika memasak dilakukan bersama atau sekedar jadi topik diskusi. Karena
hidangan, kita mampu membangun jejaring sosial (social network) sesama penggemar hidangan/kuliner atau
aktifis dapur. Sahabat dan keluarga jadi bagian yang menopang kehidupan kita
sehari-hari. Berbagi komentar, cerita juga masalah akan membuat hidup terasa
menyenangkan karena kehadiran mereka.
Sumber:


