Laman

Kamis, 27 Desember 2012

RESUME PERSONALITY DEVELOPMENT


Diposting Oleh: Eka Ayu Yuliantie – 09101089
Jurusan Manajemen STIE ASIA Malang

Mengolah Emosi  dengan Cara Relaksasi

        Emosi merupakan perasaan-perasan yang dipengaruhi dari warna afektif. Warna afektif yang dimaksud disini adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari. Disamping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, senang, cinta, marah, takut, cemas dan benci. Pada saat emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:
a)      Peredaran darah bertambah cepat bila marah
b)      Reaksi elektris pada kulit meningkat bila terpesona
c)      Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut
d)     Pernapasan bernapas panjang kalau kecewa
e)      Pupil mata membesar bila marah
f)       Bulu roma berdiri kalau takut, dsb



Mengelola emosi sangat penting untuk kesehatan mental kita. American Academy of Family Physician berbagi saran bagaimana melakukannya :
1.      Ekspresikan perasaan dengan cara yang pantas.
2.       Jangan simpan emosi, utarakan pada teman dekat atau kerabat terpercaya, atau minta
bantuan profesional seperti psikologi..
3.       Jangan biarkan emosi meledak, perilaku demikian seringkali bakal disesali sesudahnya.
4.      Berusahalah memandang sisi positif dari semua situasi.
5.       Karena fisik dan mental saling berkaitan, jagala tubuh dengan pola makan yang sehat,
hindari narkoba dan alkohol serta rutin berolahraga.
6.      Lakukan gaya hidup sehat dan seimbang antara kerja,bermain dan relaksasi.
(Diposkan oleh Widyonarko di 16:16)

1.      Cara Mengendalikan Marah (Emosi Menjadi Sebuah Relaksasi yang Menyehatkan)

“Marah” sebuah expressi dari ketidak setujuan atau ketidak sesuaian, antara keinginan dan kenyataan yang terjadi. Dalam hal ini, marah adalah perasaan yang spontanitas karena stimulus yang mendorong perasaan tidak nyaman itu muncul.

Menurut Harriet Lerner, marah adalah suatu tanggapan dari perlakuan tidak adil. Adapun ketildakadilah tersebut adalah sebuah pesan yang menyatakan :
  • Kita itu sedang dilukai, 
  • Hak kita sedang dilanggar
  • Kebutuhan atau keinginan kita sedang tidak dipenuhi
  • Ada sesuatu yang tidak benar.

Berikutnya, ada beberapa psikologi di bawah ini yang menyatakan manfaat marah. Ini adalah sebuah upaya pengaturan marah agar bisa dikendalikan sehingga tidak melampui batas wajar dalam menexspresikannya. Sehingga bisa membuat marah tersebut menjadi hal yang menguntungkan.

Pertama,  menurut Charles Spielberger, Ph.D., seorang ahli psikologi yang mengambil spesialisasi studi tentang marah. Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu bentuk ekspresi emosi manusia. Seperti bentuk emosi lainnya, marah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, begitu juga dengan level hormon, adrenalin dan noradrenalin.

 Kedua, menurut Mark Gorkin seorang konsultan pencegahan stres dan kekerasan, membagi marah dalam empat kategori; marah yang disengaja, marah spontan (marah yg dilakukan secara tiba-tiba), marah konstruktif (marah yang disertai ancaman terhadap orang lain) dan marah destruktif (marah yang ditumpahkan tanpa rasa bersalah).

Ketiga, marah merupakan satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah. Bentuk penyampaian marah bisa berbeda-beda bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

 Keempat, marah adalah manusiawi. Marah memang bisa dikendalikan menjadi sebuah relaksasi yang menyehatkan. Marah yang bisa berdampak buruk adalah marah yang tidak dikelola. Hal ini sudah terbukti pada sebuah penelitian yang menyatakan marah akan lebih baik daripada memendam perasaan jengkel. baik secara fisik maupun secara psikologis. Karena jika di pendam, marah akan mengakibatkan banyaknya saraf yang kaku (dalam jangka panjang biasanya bisa menimbulkan stroke).

2.      Mengelola Marah menjadi menyenangkan

Berikut ini adalah tips agar marah dapat menjadi expresi perasaan yang tidak merugikan.
1.      Lontarkan kemarahan atau kejengkelan Anda sewajarnya saja. Sampaikan, penyebab utama kejengkelan itu. Bukan marah yang sekadar menuruti emosi yang meledak-ledak, kemudian melampiaskannya melalui kata-kata, ekspresi dan perlakuan yang kasar karena dapat merugikan orang lain. Untuk itu, dalam keadaan marah kita harus mengedepankan rasio. Sehingga kemarahan itu jadi lebih terkendali
2.      Mengidentifikasi kesalahan sikap dan pendirian yang memengaruhi seseorang menjadi marah secara berlebihan. Bila telah diketahui dan diperbaiki kesalahan ini, umumnya Anda bakal lebih mudah mengendalikan marah.
3.      Mengidentifikasi faktor-faktor dari masa kecil yang menghambat kemampuan untuk mengekspresikan amarah. Faktor-faktor ini termasuk ketakutan, penolakan dan ketidaktahuan.
4.      Mempelajari cara tepat untuk mengekspresikan kemarahan sehingga tetap dapat menguasai situasi yang menimbulkan kemarahan itu, bahkan secara lebih efektif.
5.      Menutup luka-luka yang mungkin tertinggal oleh pengaruh emosional dari kemarahan yang menghancurkan.


3.      Olah Rasa dan Olah Napas untuk Menjaga Emosi Tetap Berada di Titik Imbangnya

Seseorang yang mau terus belajar mengenali dirinya sendiri akan berusaha mencari cara untuk menjaga titik imbangnya. Contoh: seorang atlet yang aktivitasnya berkompetisi, pilihannya ada dua, menang atau kalah. Apa yang dilakukan seorang atlet agar tidak larut dalam eforia kegembiraan saat mengalami kemenangan, dan tidak meledak dalam kesedihan saat mengalami kekalahan.
Latihan mengatur napas atau bisa disebut olah napas dan latihan mengatur rasa atau bisa disebut olah rasa, akan membantu seorang atlet menerima kemenangan dan kekalahan secara wajar. Kewajaran itulah yang akan menjaga titik imbangnya, sehingga tidak terlalu gembira atau terlalu bersedih. Ia tidak menepuk dada dan mendongakkan kepala saat menang, dan tidak berjalan dengan kepala menunduk saat kalah. Ia tetap berjalan tegak lurus dan tersenyum saat menang maupun kalah. meditasi atau yoga untuk membantu diri sendiri dalam mengolah rasa dan napas. Aktivitas apapun, bukan hanya meditasi dan yoga, yang bisa membawa seseorang dalam keheningan, semuanya bisa memiliki manfaat untuk mengolah napas dan rasa.
Setiap orang tentu memiliki cara untuk menangani dirinya sendiri. Setiap orang tentu mengetahui titik-titik lemahnya sendiri, dan mempunyai cara untuk menangani kelemahannya sendiri tersebut.
Akan ada masa sulit dan masa mudah, akan ada masa menyedihkan dan masa menyenangkan, seperti musim hujan dan kemarau yang datang bergantian. Seperti ada masa tanam, namun ternyata gagal panen disebabkan oleh hal-hal, olah rasa dan olah napas bisa membantu seorang petani terhindar dari emosi negatif, seperti kesal, marah, kecewa, sedih. Perasaan tenang karena sudah terbiasa melakukan olah rasa dan olah napas, membuat petani lebih memilih untuk meneliti penyebab gagal panen yang dialaminya itu, untuk kemudian mencari jalan keluarnya. Juga dalam hubungan antarmanusia, olah rasa dan olah napas bisa membantu seseorang tetap tenang saat menghadapi orang yang ’sulit’, misalnya mengatakan urgent saat meminjam sejumlah uang dan berjanji akan mengembalikannya pada tanggal sekian, ternyata janji tinggal janji. Olah rasa dan olah napas bisa membuat emosi tetap berada di titik keseimbangan ketenangan saat menghadapi situasi-situasi sulit dan orang-orang sulit, juga tetap tenang saat menghadapi situasi-situasi yang mudah dan orang-orang yang mudah.
4.      Memasak Sebagai Relaksasi
Kita semua kenal dan menerima dapur sebagai ‘jantung’ dalam setiap rumah tangga. Disini hampir semua proses dan interaksi antar keluarga terjadi, mulai dari bangun pagi sampai waktu tidur malam. Memasak memang sering dihubungkan dengan karakter perempuan atau seorang ibu, sebetulnya juga berlaku bagi semua manusia lho, karena manusia beradab tidak dapat bertahan (hidup) tanpa memasak.  
Masak itu membutuhkan konsentrasi yang melibatkan fisik, pikiran juga perasaan. Sewaktu memasak panca indera kita menjadi aktif; mulai dari tangan yang meracik bumbu, mencicip hidangan lezat sampai menghirup aroma masakan yang menggelitik perut. Beberapa contoh aroma seperti kayu manis, cengkeh atau vanila, mampu membangun suasana menenangkan dan rileks.
Dan jika saja kita sedang memiliki beban hidup dan amarah yang meluap, cobalah resep roti yang membutuhkan tenaga sewaktu mencampur dan membanting adonan sampai kalis. Tanpa perlu ‘salah alamat’ sewaktu emosi meluap, dan pada akhirnya: wangi roti matang yang baru saja keluar oven mampu melumerkan hati dan mendinginkan kepala
Lalu, memasak juga melatih kita untuk berpikir kreatif, lebih tanggap dan fokus untuk mencari solusi. Misalkan satu resep membutuhkan gula cair dan saat itu hanya ada gula pasir. Kita harus mencari solusi untuk menjawab ‘tantangan’ agar hidangan tetap selesai dan jadi yang terbaik. Rasa penasaran untuk mencapai hasil terbaik akan memberi kepuasan tersendiri diakhir proses.
Lebih dari itu, memasak juga menambah nilai ketrampilan untuk menghasilkan hidangan lezat. Otomatis orang lain akan memberi penilaian lebih dan kita pun akan tampil lebih percaya diri. Bersiaplah menerima pujian dan sanjungan dari hasil pekerjaan kita. Ketika banyak orang menganggap masak adalah satu kesulitan, kita akan melihat dari sisi yang berbeda yang akhirnya membuat hidup lebih ringan.
Masih kurang yakin? Memasak akan makin mempererat hubungan sosial ketika memasak dilakukan bersama atau sekedar jadi topik diskusi. Karena hidangan, kita mampu membangun jejaring sosial (social network) sesama penggemar hidangan/kuliner atau aktifis dapur. Sahabat dan keluarga jadi bagian yang menopang kehidupan kita sehari-hari. Berbagi komentar, cerita juga masalah akan membuat hidup terasa menyenangkan karena kehadiran mereka.

Sumber: